Pengalaman
di Institut Agama Islam Darussalam (IAID)
Berawal dari
pelaksanaan tes masuk IAID yang dilaksanakan di sekolah MAN Darussalam Ciamis.
Pada saat itu saya hanya memiliki teman dari SMA 3 Ciamis saja yang bernama
Shopia, namun ruangan kami untuk tes tidak sama sehingga saya berdiam sendiri. Saling
berkenalan pun terjadi, sehigga saya pun memiliki teman baru. Detik-detik tes
dimulai, tes masuk IAID ada 2 yaitu tes tulis dan tes lisan. Pada waktu tes
tulis saya sangat kesulitan karena disuruh menulis surat al-qadar tanpa melihat
ditambah lagi deg-degan karena berhadapan langsung dengan dosen. Hal ini
membuat saya panik. Kemudian saya mendapatkan teguran dari dosennya gara-gara memakai
celana jean. Kejadian ini menambah rasa panic saya yang takut akan tidak
diterimanya di IAID.
Pengumuman hasil tes
pun sudah ada, Alhamdulillah saya diterima juga. Bagi mahasiswa baru diadakan
TAMADA (Ta’aruf Mahasiswa Darussalam). Pelaksanaan terjadi, saya berkenalan
dengan Tia yang sampai sekarang menjadi salah satu soulmate saya. Kegiatannya
sangat membosankan, yang diingat saya hanya ingin pulang karna tidak betah.
Pembagian Ruangan tidur dan kelompok terjadi, di dalam kelompok tidak ada
satupun yang saya kenal. Pembimbing menyuruh saya sebagai ketua kelompok, sehingga
saya harus bertanggung jawab pada kelompok tersebut. Panitia mengadakan
kegiatan berupa “Games”, didalam games tersebut saya mengikuti games tentang
melintasi tambang yang ada di atas kolam yang besar. Tangan-tangan saya terasa
pedih,namun akhirnya saya dapat melaksanakannya dengan sukses. Pelaksanaan
TAMADA selesai, 3 hari 3 malam itu terasa lama sekali.
Masuk kuliah pun tiba,
seperti biasa saya bersamaan dengan Shopi. Disini saya mendapat teman baru
banyak. Pada awalnya melaksanakan kuliah pun sangat enggan karena tidak asyik
untuk dijalani. Lama kelamaan akhirnya menjadi seru juga. Saya pun memliki
omet-omet (soulmate) banyak,ada Tia,Aal,Suci,Dedew,Nda,Nita,teh Ihat dan teh
Yuliawati. Kalau Shopi sich udah dari SMA. Namun satu dari Omett saya ada yang
keluar, yaitu teh Yuliawati. Kami sangat sedih dengan kejadian ini. Kesedihan
tersebut tidak berlarut-larut, sekarang pun saya dan omet-omet menjalankan
kuliah dengan asyik dan semangat untuk mencapainya sebuah cita-cita.